Operasi Mapenduma yang Mendunia

 Operasi Mapenduma yang Mendunia
 
 
mjpk88.com - Senin 8 Januari 1996 menjadi mimpi yang buruk untuk 12 peneliti Tim Lorentz yang sedang mengumpulkan data di Mapenduma, Papua. Ratusan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Daniel Yudas Kogoya menculik mereka dari base camp.
 
Komandan OPM Kelly Kwalik berusaha menukar 12 sandera itu dengan kemerdekaan Papua. Karena melibatkan warga negaar asing, peristiwa ini jadi sorotan internasional. Selama dalam penyanderaan, para sandera digiring blusukan ke belantara Papua. Mereka tak mendapat cukup makanan, sehingga beberapa orang sakit.
 
Mabes TNI menggelar satgas untuk membebaskan sandera di Mapenduma. Komandan Jendral Kopassus saat itu Brigjen Prabowo Subianto ditunjuk menjadi Komandan. Tim Kopassus yang dikerahkan berasal dari Grup 5 Antiteror yang berseragam hitam-hitam.
 
Selain itu ada pasukan Batalyon Lintas Udara Kostrad 330 dan pasukan penjejak yang terdiri dari putra-putra Irian milik Kodam Cendrawasih. Total pasukan yang di kerahkan mencapai 600 orang.
 
Tapi sesuai permintaan dunia internasional, Prabowo mempersilahkan Tim Internasional Committee of the Red Cross (palang merah internasional), melakukan perundingan. Awalnya Kelly Kwalik menunjukkan itikad baik. Mereka berniat membebaskan beberapa sandera yang sakit, termasuk Martha Klein yang sedang hamil.
Namun saat detik-detik pelepasan sandera, tiba-tiba Kelly Kwalik berubah. dia berpidato dengan keras.
 
"Saya minta ubi harus dapat ubi, bukan ubi di kasih ketela" artinya jelas, kemerdekaan harga mutlak untuk Kelly. Para sandera dan tim ICRC lemas, mereka sadar perundingan berliku ini menempuh jalan buntu.
 
Maka Brigjen Prabowo langsung menggerakan pasukan begitu mendengar lampu hijau. Pengintaian lewat udara dilakukan terus menerus. Sebuah pesawat tanpa awak yang bisa mendeteksi panas tubuh ikut digunakan. Bukan perkara mudah melacak jejak sandera di tengah belantara Papua. tapi TNI terus menekan.
 
OPM yang terdesak terus bergerak masuk ke hutan. Dalam keadaan panik, tanggal 15 Mei OPM membunuh dua anggota Tim Lorentz, Navy dan Matheis dibantai dengan kampak. Rupanya mereka berniat membunuh seleruh sandera yang berasal dari Indonesia dan hanya menyandera warga negara asing. Dengan histeris sisa sandera berlari menyelamatkan diri.
 
Kejadian selanjutnya sangat dramastis. Dalam keadaan putus asa mereka bertemu pasukan Linud 330 Kostrad yang telah mencoba mengikuti mereka berhari-hari. Pasukan pimpinan Kapten Agus Rochim tersebut menemukan permen dan pembalut wanita yang tercecer di hutan. Dua benda tersebut menambah keyakinan mereka tak jauh lagi dari sandera.
 
"Kami TNI Batalyon 330" teriak salah satu anggota pasukan saat bertemu para sandera. Ketegangan para sandera itu berubah menjadi rasa lega. Mereka telah diselamatkan oleh pasukan elit baret hijau itu.
 
Kapten Agus memerintahkan pasukannya membuat parameter dan melindungi para sandera yang selamat. Pasukan Yon 330 berkali-kali menembakkan senjata untuk mencegah OPM mendekat.
 
Namun dia memutuskan untuk tak melakukan pengejaran atau melakukan pencarian pada dua sandera yang dibunuh. Alasannya jelas, kekuatan pasukan OPM tak diketahui. Mereka juga pasti akan berusaha keras merebut sandera yang kini berada di tangan TNI.
 
"Pasukan saya cuma 25 orang. Harus dibagi dua, satu menjaga di seberang sungai dan satu lagi melindungi para sandera." kata Agus.
 
Tim berkuatan itu bermalam di hutan semalaman. Cuaca buruk dan kabut menyebabkan jarak pandang hanya lima meter di dalam hutan. Kapten Agus terus berusaha memanggil bala bantuan.
 
"Kami masih dalam keadaan tegang, Baik mantan sandera maupun Batalyon 330 tetap beriaga menghadapi kemungkinan dari GPK-OPM yang bernapsu merebut sandera" Kata Adinda Arimbi Saraswati, salah satu sandera mengisahkan ketegangan malamn itu.
 
Untunglah tidak ada serangan malam itu, Keesokan pagi, personel tambahan Tim Kopassus datang. Mereka bertugas mengamankan lokasi dan mengevakuasi jenazah Navy dan Matheis. Seluruh sandera pun dievakuasi dengan helikopter.
 
Setelah 130 hari disandera. para peneliti bisa menghirup nafas lega tanggal 16 Mei 1996. Mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat. Pasukan TNI mendapat pujian dari dunia internasional atas prestasi mereka.
 
 
 
 
 
untuk mengetahui cerita lebih lanjut, KLIK DISINI
 
Share on Google Plus

About mejapoker88

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.