5 Negara Baru yang Bakal Muncul di Masa Depan

5 Negara Baru yang Bakal Muncul di Masa Depan

Peta Jerman (Perang Dingin) 

mjpk88.com - Kelahiran suatu negara merupakan saat yang menarik. Melihat keadaan sekarang tentang penguasaan lahan yang bisa dimanfaatkan, maka kelahiran negara-negara baru hanya bisa terjadi karena beberapa alasan.

Dengan demikian, setiap peristiwa penggabungan dan keruntuhan negara membawa muatan emosional. Misalnya kelahiran Sudan Selatan pada 2011, pembentukan Kosovo pada 2008 ataupun penyatuan Jerman pada 1990.

Walaupun semakin jarang, penggabungan ataupun pecahnya negara memang masih mungkin terjadi. Dalam waktu satu dekade ke depan, cukup banyak kawasan yang mungkin mendapat kesempatan bergabung menjadi negara-negara baru.
Berikut ini adalah dugaan lahirnya beberapa negara baru di mas depan :

1. London Merdeka

Dalam beberapa tahun belakangan, Skotlandia berupaya melepaskan diri dari Inggris Raya. Tapi, beberapa pengamat menduga London kemungkinan akan lepas dari Inggris.
Kota paling dinamis sedunia itu memiliki populasi sebanyak 8 juta jiwa, lebih banyak daripada populasi Norwegia dan Denmark. Ukuran kota itu sedikit lebih besar daripada negara Singapura.

Secara budaya dan ekonomi kota itu seakan terpisah dari wilayah lain di luarnya, London menyumbang 40 persen GDP kepada negara dan hampir 40 persen penduduknya adalah imigran.
Hambatan yang ada bukan pada kemampuan London menjadi negara mungil tapi pada kesediaan Inggris membiarkan London lepas.

Beberapa politisi dari partai utama Inggris memang sudah mengadang-gadang London merdeka dengan alasan yang kuat. Negara-kota London mendapat manfaat karena tidak usah lagi mengirim dana ke seluruh wilayah Inggris. Sebaliknya, wilayah Inggris di luar London tidak lagi berada di bawah bayang-bayang dominasi politik London.

Jika memang merdeka, London akan menjadi pusat keuangan yang digdaya di bawah dominasi politik sayap kiri.

2. Kurdistan

Dunia setelah usainya Perang Dunia II menghasilkan pemenang dan pecundang. Salah satu yang paling dipecundangi adalah bangsa Kurdi. 
Setelah PD II wilayah etnis itu terpecah-pecah menjadi bagian dari Irak, Suriah dan Turki.

Bangsa Kurdi terus memperjuangkan negara merdeka sehingga memicu perang saudara di Turki dan upaya-upaya genosida terhadap bangsa Kurdi di Irak. Perjuangan itu seakan tidak berujung hingga meletusnya perang sipil di Suriah dan bangkitnya ISIS.

Bangsa Kurdi menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat di kawasan itu dan mereka sekarang secara terbuka bicara soal negara bagi Kurdi.
Pasukan Kurdi telah menguasai wilayah yang direbut ISIS dari Irak, namun menolak mengembalikannya kepada Irak. Sebagian besar wilayah Suriah juga berada di bawah kendali Kurdi.

Pemimpin Kurdi Irak telah menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk menerima kenyataan bahwa bangsanya sedang mendirikan negara. 
Dalam situasi kekosongan kekuasaan di Suriah bagian timur laut dan Irak bagian utara, bangsa Kurdi sebenarnya sudah merdeka secara de facto.

Tantangan terbesar adalah karena Kurdi Irak bersekutu dengan Turki. Padahal Kurdi Suriah telah menyatakan Turki sebagai musuh.
Jika kekacauan mereda di Timur Tengah setelah kekalahan ISIS, Assad yang kelelahan dan Irak yang tercabik-cabik maka pembentukan negara Kurdi seakan tidak terelakkan.

3. Eropa Serikat 

Perjanjian yang menjadikan landasan pendirian Uni Eropa (UE) modern menyerukan 'kesatuan yang semakin dekat.' 
Dalam pandangan banyak pihak, hal ini di mengerti sebagai pendirian 'Eropa Serikat' dengan pemerintahan, militer dan mata uang bersama.

Krisis financial, resesi di Yunani dan krisis pengungsi sempat meredam rencana tersebut, tapi upaya-upaya masih terus berjalan. Banyak pihak menanggap pendiriannya akan memecahkan masalah-masalah UE sekarang ini.

Seruan pembentukan 'United States of Europe' pertama kali dilontarkan oleh Winston Churchill pada 1946. Menurut Churchill tidak ada cara lain untuk menghentikan runtuhnya Eropa seandainya terjadi perang habis-habisan lagi. Sejak saat itu, banyak pihak yang menyerukan hal serupa.

Baru-baru ini wakil presiden Komisi Eropa menyerukan berhimpunnya 18 negara pengguna Euro. Sementara itu, 10 negara lain dalam UE menjadi sekutu dekat.
Dalam suasana bangkitnya nasionalisme di seluruh Eropa, gagasan negara besar UE menghangat kembali.

Tapi pakar telah memperingatkan bahwa UE tidak bisa terus berfungsi dalam bentuknya yang sekarang. Perlu integrasi yang lebih dekat atau kembali lagi ke masa ketika UE hanya sekedar blok perdagangan.

4. Korea Bersatu

Semenanjung Korea menawarkan kontras yang jelas sehingga mimpi menyatukan dua Korea seakan khayalan belaka. 
Korea Selatan adalah negara hiper-kapitalis penggemar teknologi dengan standar kehidupan yang termasuk tinggi di Asia.
Di sisi tetangga, terletak negeri melarat yang diperintah oleh seorang diktator paranoid yang gemar mencoba-coba mencari cara meledakkan bom nuklir.

Walaupun demikian, reunifikasi merupakan kebijakan resmi dua pemerintahan, baik di Utara maupun Selatan. Tentu saja biaya penyatuan kembali memang mahal. Misalnya pada 1990 Jerman Barat tersenggal-senggal ketika menyerap Jerman Timur dan masih terus membayar biaya reunifikasi hingga sekarang.

Biaya reunifikasi Jerman berkisar USD 2,5 triliun selama 25 tahun. Padahal Jerman Timur saat itu masih bisa di bilang berfungsi walau kenyataannya Jerman Timur ada dalam keadaan melarat.

Berbeda dengan Korea Utara yang seperti terkurung dalam abad kegelapan. Jadi Korea Selatan harus segera menggelontorkan USD 1 triliun agar Korea bersatu tidak berlangsung runtuh.
Walaupun demikian, manfaatnya ada di depan mata. Menurut perhitungan, mineral langka Korea Utara bisa memberikan imbal jangka panjang senilai USD 12 triliun dalam jangka panjang.

Apalagi dengan manfaat yang ternilai dengan uang, yaitu ketika tidak ada lagi tetangga pemarah pemilik senjata nuklir. 
Dengan melihat keadaan sekarang, jika Korea Utara runtuh akibat revolusi atau kudeta, maka kebijakan resminya adalah dua Korea akan bersatu.

Hanya saja dengan negara yang amat tidak stabil seperti Korea Utara, hal tersebut bisa terjadi entah kapan.

5. Libya Timur dan Libya Barat

Libya berada dalam keadaan kacau balau. Sejak Khadaffi digulingkan negeri itu memilih beberapa visi untuk masa depannya. Kaum milisi menguasai kawasan yang luas dan ISIS mencaplok wilayah negara itu.

Dimana mana muncul pemerintahan yang dinyatakan sendiri-sendiri. Masing-masing mengaku sebagai pemerintah yang sah. Di tengah kekacauan itu, wilayah Timur dan Barat semakin menjauh sehingga saat mungkin terjadi perpisahan menjadi dua negara terpisah.

Di Tripoli, pemerintah dukungan PBB berhasil menguasai kendali sebagian besar wilayah Barat. Sementara itu, di Tobruk, pemerintah yang setia kepada pembangkang Jenderal Khalifa Haftar menguasai sebagian besar wilayah Timur.

Dua pihak sama-sama mengaku mewakili Libya. Keduannya memiliki infrastruktur dan Bank Sentral sendiri. Mereka juga menerbitkan mata uang masing-masing ke seluruh negeri.
Saat ini, pupuslah semua harapan agar negara itu tetap bersama. Jika perintah yang didukung PBB tidak mendapatkan bantuan serius pendanaan dari negara-negara Barat untuk mencegah keruntuhan ekonomi, maka Libya akan mudah tergelincir ke dalam perpecahan.

Jika demikian, hal tersebut mengarah kepada pembentukan dua negara baru yang sama-sama harus berjuang melawan terorisme dan ketidakstabilan keuangan. 
Dalam kasus demikian, lahirnya sebuah negara baru bukanlah yang selalu disambut gembira dan malah menjadi mimpi buruk secara geopolitik.




untuk mengetahui cerita lebih lanjutKLIK DISINI

Share on Google Plus

About mejapoker88

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.