Badak Sumatera yang "Masih" Berjuang Untuk Bertahan Hidup

Badak Sumatera yang "Masih" Berjuang Untuk Bertahan Hidup 


mjpk88.com - Hingga kini, badak Sumatera menjadi salah satu spesies yang terancam keberadaannya di Bumi. Pada tahun 2008 peneliti memperkirakan populasinya hanya tinggal di kisaran angka 220 hingga 275 ekor saja.

Status mereka dalam situs resmi Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN) pun belum berubah, masih terancam punah dan tren populasi mereka justru semakin menurun.

Ironisnya, nasib badak yang berbulu ini ternyata tak jauh berbeda dengan kehidupannya di masa lalu. Sebuah penelitian yang di terbitkan dalam sebuah jurnal Current Biology, memaparkan bahwa badak sudah berhadapan dengan fase kepunahan sejak 10.000 tahun lalu.

"Spesies ini sudah berada dalam fase kepunahan untuk waktu yang sangat lama," kata Terri Roth seorang ahli badak dari Pusat Konservasi dan Penelitian Habitat Spesies Terancam Punah kebun binatang Cincinnati, Amerika Serikat.

Hasil penelitian tersebut berdasarkan dari analisis genetik DNA badak Sumatera bernama Ipuh yang tinggal di kebun binatang Cincinnati selama 22 tahun.

Tim menggunakan teknik yang disebut pemodelan Pairwise Sequential Markovian Coalescent (PSMC) yang memungkinkan mereka untuk memperkirakan populasi spesies yang mencakup ribuan generasi hanya dengan pengurutan gen dari satu individu saja.

Menurut data, spesies tersebut mencapai puncak populasi sekitar 950.000 tahun yang lalu, dan jumlahnya mencapai sekitar 57.800 spesies.
Namun, populasi mereka mengalami penurunan selama Zaman Es yang berlangsung dari sekitar 2,6 juta tahun yang lalu hingga sekitar 12.000 tahun yang lalu.

Berdasarkan penelitian, penyebab utama penurunan populasi ada kaitannya dengan perubahan iklim di masa lalu. Peneliti mengungkapkan jika ada kenaikan permukaan air laut yang merendam daratan yang menghubungkan pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatera dengan Semenanjung Melayu dan daratan Asia. Hal ini yang berakibat pada pecahnya habitat Badak.

Dampaknya, makin berkurangnya keragaman genetik badak Sumatera akibat isolasi geografis sehingga membuat mereka lebih rentan terhadap ancaman dari aktivitas manusia seperti pembabatan hutan dan perburuan.

Itulah sebabnya menjelang akhir zaman es sekitar 9000 tahun yang lalu, jumlah badak Sumatera berkurang drastis hingga hanya menyisahkan sekitar 700 spesies saja. Kondisi suram ini terus berlangsung hingga saat ini.

Harapan dengan menambah populasi badak Sumatera terus di galakkan dengan melakukan penangkaran. Indonesia sendiri berhasil menangkarkan badak dan melahirkan Andatu yang menjadi badak pertama yang lahir dari penangkaran di Indonesia tahun 2012 lalu.

Namun semua itu di rasa tidak cukup. Kita masih berusaha terus kejar-kejaran dengan waktu untuk mencari cara dan jalan lain untuk menyelamatkan badak.

Salah satu persoalannya adalah soal perlembangbiakannya yang terbilang lambat. Betina tidak mencapai tingkat kematangan seksual hingga umur 6 atau 7 tahu, sementara jantan baru mencapai tingkat kematangan seksual di umur 10 tahun.

Lalu, betina hanya kawin sekali setiap empat atau lima tahun, dan masa kehamilan mereka selama 16 bulan. Setelah itu, anak badak akan tinggal dengan induk mereka selama dua hingga tiga tahun.
Jika sampai badak Sumatera punah artinya seluruh genus ini juga punah.

Pasalnya, badak Sumatera merupakan satu-satunya spesies dari genus Dicerorhinus yang bisa bertahan hidup sampai sekarang. Genus ini merupakan grup paling primitif yang berevolusi dari 15 juta hingga 20 juta tahun lalu.








untuk mengetahui cerita lebih lanjutKLIK DISINI



Share on Google Plus

About mejapoker88

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.