Bung Karno dan Rusa-rusa, Mereka yang Terusir Dari Istana Bogor

Bung Karno dan Rusa-rusa, Mereka yang Terusir Dari Istana Bogor

 
mjpk88.com - Istana Kepresidenan RI di Bogor, Jawa Barat menyimpan begitu banyak romantisme sejarah. Termasuk sejarah kelam pengusiran Presiden pertama RI Soekarno dan rusa-rusa yang sudah menjadi kekhasan Istana itu sejak era kolonial Belanda.

Kisah pengusiran tersebut terekam dalam buku yang berjudul "Fatmawati Soekarno, The First Lady"  karya Arifin Suryo Nugroho yang dipublikasikan Penerbit Ombak tahun 2010.

Hikayat itu dimulai pada suatu hari di bulan Mei 1957. Persisnya ketika Bung Karno memutuskan menempati pavilium Amarta Istana Bogor yang dibangun pada 1954, bersama Hartini dengan kedua anak mereka, Taufan dan Bayu.

Ibu Negara Fatmawati sendiri, tiga tahun sebelumnya sudah keluar dari Istana karena menolak poligami dan tak mau di madu. Selang sembilan tahun, di pavilium itu juga Bung Karno menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Isi surat itu antara lain memerintahkan Soeharto mengambil tindakan menjamin keamanan, ketenangan dan kestabilan juga menjamin keamanan dan kewibawaan Sokarno.

Namun, setelah surat itu diterbitkan, Soeharto justru perlahan-lahan melucuti kewenangan Bung Karno sebagai presiden.

Lewat satu tahun dari penandatanganan Supersemar itu, giliran Soekarno, Hartini dan anak-anak mereka yang diminta segera keluar dari pavilium Istana Bogor.
Pukul 08.00 pada pertengahan Desember 1967, Soekarno mendapat perintah agar pavilium Amarta segera dikosongkan.

Keputusan itu berdasarkan surat yang dikirim Panglima Kodam Jaya, Mayjen Amirmachmud. Ultimatum tidak lagi dalam hitungan hari tapi jam sehingga pada pukul 11.00 menjadi batas waktu untuk berkemas.

"Het is niet meer mijn huis (Sudahlah ini bukan rumah saya lagi)," kata Bung Karno dalam bahasa Belanda saat itu.

Mantan Perwira Detasemen Kawal Pribadi Bung Karno, Sogol Djauhari Abdul Muchid, dalam buku "Hari-hari Terakhir Soekarno" karya Peter Kasenda, menceritakan sang presiden tidak membawa harta apapun saat diusir dari Istana Bogor.

"Bung Karno keluar hanya memakai piyama warna krem serta kaos oblong cap cabe. Baju piyamanya disampirkan di pundak, memakai sandal cap bata yang sudah usang. Tangan kanannya memegang koran yang digulung agak besar, isinya bendera sang saka merah putih," kata Abdul Muchid.

Setelahnya Hartini bersama dengan anak-anaknya akhirnya tinggal di rumah di Jalan Jakarta, Bogor, sementara Soekarno tinggal di rumah pribadinya di Puri Bima Sakti Batutulis Bogor.

Ternyata, bukan hanya Bung Karno dan keluarga yang terusir dari Istana Bogor. Ada juga rusa-rusa totol yang sempat terusir dari Istana. Karena jumlahnya sudah terlalu banyak. Istana Bogor pada 1998 bahkan memindahkan 25 ekor rusa ke istana Tampaksiring.

Awal kedatangan rusa adalah pada tahun 1808-1811 saat masa pemerintahan Gubernur Jenderal Willem Daendels .

Rusa-rusa itu ditempatkan di halaman Istana. Awalnya hanya ada 6 pasang rusa asal perbatasan India-Nepal yang didatangkan. Seiring waktu, populasi mereka terus meningkat.

Kini, berdasarkan penelusuran Antara, Jumlah rusa di Istana Bogor berjumlah sekitar 600-an ekor. Jumlah itu dinilai masih ideal dengan memperhitungkan luas halaman rumput Istana Bogor, yakni 3 ha dari total luas kawasan Istana yang mencapai 28,8 hektare, dengan luas bangunan Istana sekitar 900 meter persegi.






untuk mengetahui cerita lebih lanjut, KLIK DISINI





Share on Google Plus

About mejapoker88

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.