Yugoslavia, Negeri Multirasial yang Tinggal Kenangan

Yugoslavia, Negeri Multirasial yang Tinggal Kenangan

Image result for yugoslavia sebelum perang dunia 1 

mjpk88.com - Sebelum Perang Dunia I wilayah yang kelak menjadi cikal bakal negara Yugoslavia adalah wilayah milik kekaisaran Austria-Hongaria. Pasca berakhirnya Perang Dunia I, Austria-Hongaria mengalami keruntuhan dan wilayahnya terpecah menjadi negara-negara yang kecil

Beberapa negara pecahan tersebut adalah Serbia, Kroasia, dan Sloveniayang semuanya berlokasi di semenanjung Balkan. Ketiga negara tadi kemudian sepakat untuk melebur membentuk negara baru bernama "Kraljevina Srba, Hrvata, i Slovenaca" ( SHS : Kerajaan Serbia, Kroasia dan Slovenia ).

Pada tanggal 1 Desember 1918, SHS memiliki bentuk pemerintahan monarki konstitusional dengan Beograd yang terletak di negara bagian Serbia sebagai Ibukotanya.

Tidak lama sesudah pembentukannya, SHS langsung dihadapkan pada masalah mengenai gaya pemerintahan yang hendak diambil. Komunitas etnis Serbia ingin supaya SHS mengadopsi gaya pemerintahan sentralistik, sementara komunitas Kroasia ingin supaya SHS memberikan otonomi luas kepada daerah-daerah bawahannya.

Tahun 1920, Majelis SHS yang didominasi oleh komunitas Serbia akhirnya berhasil mengesahkan Undang-undang beru yang mengubah SHS menjadi negara dengan gaya pemerintahan sentralistik. Hal tersebut tidak membuat komunitas Kroasia patah arang. Lewat partai politiknya yang bernama Hrvatska Seljacka Stranka HSS (partai petani Kroasia) komunitas Kroasia tetap mencoba mengupayakan otonomi luas bagi daerah yang mereka tinggali.

Tahun 1928, Stjepan Radic yang menjabat sebagai ketua HSS ditembak oleh anggota partai saingannya yang pro-Serbia. Peristiwa penembakan Radic langsung memicu kemarahan dari orang-orang Kroasia sehingga aktivitas perpolitikan di SHS sempat memasuki masa-masa kritis.

Supaya bisa mengembalikan stabilitas negerinya, Raja Alexander memutuskan untuk mengambil langkah-langkah radikal pada tahun 1929. Majelis SHS dibubarkan, aktivitas pemerintahan dipusatkan di tangan raja dan negara-negara bagian penyusun SHS dipecah menjadi provinsi-provinsi kecil. Raja juga mengubah nama resmi negara menjadi "Kerajaan Yugoslavia" ( Kraljevina Jugoslavija ). Baru pada tahun 1939, Kroasia akhirnya mendapatkan otonomi khusus.

Tahun 1941 di tengah-tengah berkecamuknya Perang Dunia II, Jerman yang dibantu tentara Italia dan Hongaria melakukan invasi militer ke Yugoslavia. Pasca invasi, Jerman dan negara-negara sekutunya melakukan pembagian atas wilayah Yugoslavia. Yugoslavia Utara menjadi milik Jerman dan Hongaria. Pantai Barat menjadi milik Italia. Yugoslavia Tenggara menjadi milik Bulgaria. Sementara wilayah Kroasia, Serbia, Montenegro dan Makedonia dimerdekakan sebagai negara boneka yang tunduk kepada Jerman.

Di negara-negara boneka itulah terjadi aksi-aksi pembantaian etnis yang dilakukan kelompok ekstrimis setempat. Jika kelompok Ustasa yang pro Kroasia melakukan pembantaian kepada etnis Serbia, Maka kelompok Chetnik yang pro Serbia melakukan pembantaian kepada etnis Kroasia dan Bosniak. 

Penjajahan yang dilakukan Jerman jelas tidak disukai oleh penduduk Yugoslavia. Sebagai akibatnya, muncullah pemberontakan di wilayah Yugoslavia yang dilakukan oleh kelompok Partisan. Kelompok yang berhaluan Komunis yang dipimpin oleh Josip Broz Tito. Tidak seperti kelompok Ustasa dan Chetnik yang melakukan perekrutan anggota dengan melihat asal muasal etnisnya, Partisan bersedia merekrut anggota baru dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda sehingga kelompok tersebut bisa mengalami pertambahan anggota dengan cepat. Dikombinasikan dengan masuknya aliran bantuan dari negara-negara sekutu musuh Jerman. Partisan pun berhasil tumbuh menjadi kelompok perlawanan yang begitu di segani oleh lawan-lawannya.

Bulan April 1945, pasukan Partisan berhasil menguasai seluruh wilayah Yugoslavia dan memaksa pasukan Jerman untuk angkat kaki. Bulan November 1945, Yugoslavia menggelar pemilu untuk menentukan komposisi ke anggotaan Majelis Konstituten Yugoslavia. Hasilnya partai Narodni Front yang dimotori oleh Tito berhasil keluar sebagai pemenang pemilu dengan perolehan suara 90%. 

Tak lama berselang atau tepat nya tanggal 29 November 1945, Majelis Konstituen membubarkan Kerajaan Yugoslavia dan mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Feodal Yugoslavia. Sejak saat itu, perjalanan panjang Yugoslavia sebagai negara republik terbesar di Semenanjung Balkan pun dimulai. 


Yugoslavia di Era Republik


Bulan Januari 1946, Majelis Kontituen Yugoslavia mengesahkan UU baru yang konsepnya menyerupai UU yang dijalankan di Uni Soviet. Lewat UU tersebut, 6 Negara bagian yang menyusun Yugoslavia ( Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Makedonia, Montenegro, Serbia dan Slovenia ) dijadikan negara bagian komunis yang tunduk pada pemerintah pusat yang berbasis di Beograd. Untuk mencegah Serbia selaku etnis mayoritas di Yugoslavia menjadi terlampau dominan, wilayah Makedonia dan Montenegro yang merupakan bagian dari Serbia dijadikan negara bagian sendiri, sementara daerah Kosovo dan Vojvodina yang juga berlokasi di Serbia diberika otonomi khusus.

Baik Yugoslavia maupun Uni Soviet sama-sama mengusung ideologi komunisme, Sehingga adalah hal yang wajar jika kedua negara tersebut memiliki hubungan yang dekat. Keduannya bahkan sempat mendirikan persekutuan komunis internasional yang bernama "Cominform" pada tahun 1948. Namun tidak lama sesudah hubungan itu, hubungan kedua negara justru malah bertambah buruk karena Soviet tidak menyukai praktik komunisme ala Yugoslavia. Ketika hubungan kedua negara semakin memanas, negara-negara Eropa Timur yang bersimpati dengan Soviet lalu mencoret keanggotaan Yugoslavia dalam Cominformdan melancarkan embargo ekonomi kepada Yugoslavia. Dikucilkan oleh sesama negara komunis sejak tahun 19949 membuat Yugoslavia mendekatkan diri kepada negara-negara Blok Barat.

Terputusnya hubungan Yugoslavia dengan negara-negara Blok Timur dan memburuknya kondisi perekonomian dalam negeri membuat pemerintah Yugoslavia untuk berpikir keras. Maka sejak permulaan dekade 1950-an Yugoslavia melakukan perubahan radikal dalam hal kebijakan ekonominya. Praktik kolektivikasi lahan dihapuskan dan para petani diperolehkan memiliki lahan sendiri dengan luas maksimal 10 hektar. Sistem ekonomi terpusat di tinggalkan dan sistem ekonomi manajemen mandiri pekerja diadopsi. Hasilnya manis, Yugoslavia menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat di sektor pertanian dan industri yang pada gilirannya berdampak pada kehidupan rakyat Yugoslavia. 

Sukses menstabilkan kondisi dalam negeri, Yugoslavia mencoba ikut ambil bagian dalam percaturan politik internasional yang saat itu sedang didominasi oleh persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur. Bersama dengan pemimpin negara-negara berkembang lainnya Tito merintis pendirian Gerakan Non Blok dalam sebuah konferensi internasional di Beograd tahun 1961. Tahun 1963 Yugoslavia mengganti nama resmi negaranya menjadi "Republik Federal Sosialis Yugoslavia". 4 tahun kemudian Yugoslavia membuka perbatasan negaranya untuk warga negara asing manapun.

Tahun 1971 sebagai akibat melemahnya perekonomian Yugoslavia dan memburuknya hubungan antara etnis Kroasia dan Serbia, muncul demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok nasionalis Kroasia di Zagreb, ibukota di negara bagian Kroasia. Demontrasi tersebut pada akhirnya memang berhasil ditumpas. Namun Tito sadar kalau peristiwa serupa akan terulang lagi di masa yang akan datang jika dia tidak melakukan perubahan.

Tanggal 4 Mei 1980 Tito akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya akibat menderita penyakit kronis. Sepeninggal Tito, pemerintah Yugoslavia dihadapkan pada masalah pelik berupa semakin menggunungnya jumlah hutang negara dan semakin lebarnya kesenjangan sosial antara negara-negara bagian utara yang makmur dengan negara-negara bagian selatan yang tertinggal. Semakin parahnya krisis yang menimpa Yugoslavia pada gilirannya turut berdampak pada melonjaknya inflasi dan membludaknya pengganguran. Perdebatan panas pun mulai muncul diantara sesama anggota pemerintahan mengenai solusi untuk mengatasi krisis, dikombinasikan dengan dendam lama warisan Perang Dunia II hubungan antar etnis yang menghuni Yugoslavia semakin lama semakin memburuk.

Tahun 1989, Slobodan Milosevic terpilih menjadi presiden negara bagian Serbia setelah ia menyatakan dukungannya pada etnis Serbia dalam konflik antara etnis Albania dan Serbia di Provinsi Kosovo. Tak lama kemudian, Milosevic berhasil menempatkan sekutunya menjadi perwakilan Montenegro, Vojvodina dan Kosovo dalam Kepresidenan sehingga mereka bersedia mendukung rencana Milosevic memperkuat kontrol pemerintah pusat atas negara-negara bagian Yugoslavia.

Bulan Januari 1990 di tengah-tengah berlangsungnya kongres luar biasa SKJ, perwakilan Kroasia dan Slovenia menarik diri dari ruang sidang sebagai bentuk protes atas keinginan Milosevic mencabut otonomi negara-negara bagian Yugoslavia. Bulan Desember 1990 pemerintah bagian Slovenia menggelar referendum yang berhasil dimenangkan oleh golongan pendukung kemerdekaan. Beberapa bulan kemudian atau tepatnya pada bulan Mei 1991, giliran pemerintah negara bagian Kroasia yang menggelar referendum yang juga dimenangkan oleh golongan pendukung kemerdekaan. Tidak ingin melihat Slovenia dan Kroasia merdeka, pemerintah Yugoslavia mengirimkan pasukannya ke 2 negara bagian tersebut sehingga periode penuh darah di bumi Yugoslavia pun dimulai.

Tanggal 26 Juni 1991, pasukan Yugoslavia yang kini didominasi oleh etnis Serbia memulai invasi militernya ke Slovenia. 10 hari kemudian perang di Slovenia berakhir dengan keberhasilan pihak Slovenia mempertahankan kemerdekaannya. Namun sebenarnya ada faktor lain yang menyebabkan perang di Slovenia bisa cepat berhenti. Pasukan Yugoslavia ingin fokus melakukan opersi militer di Kroasia dan Bosnia-Herzegovina karena letak geografisnya lebih dekat dan jumlah penduduk beretnis Serbia di kedua negara bagian tadi lebih banyak daripada yang ada di Slovenia. Konflik antara etnis Kroasia dan etnis Serbia di Kroasia sendiri sudah berlangsung sejak bulan Maret 1991. Namun baru pada bulan Juni 1991 pasukan Yugoslavia terlibat langsung dalam konflik di Kroasia dengan memihak pada etnis Serbia.

Bulan September 1991 Makedonia memisahkan diri dari Yugoslavia. Namun pasukan Yugoslavia tidak melakukan invasi militer ke Makedonia karena Makedonia merupakan negara bagian termiskin di Yugoslavia dan hanya sedikit penduduk Makedonia yang beretnis Serbia. Negara bagian berikutnya yang menjadi arena pertumpahan darah adalah Bosnia-Hezergovina, Setelah pada tahun 1992 pecah konflik segitiga antara etnis Bosniak, etnis Kroasia yang didukung oleh negara bagian Kroasia dan etnis Serbia yang didukung oleh pemerintah pusat Yugoslavia. Timbulnya perang kemerdekaan di Bosnia praktis tinggal menyisahkan Serbia dan Montenegro sebagai 2 negara bagian penyusun Yugoslavia. Bulan April 1992 keduanya setuju untuk mengubah nama resmi Yugoslavia menjadi "Republik Federal Yugoslavia".

Tahun 1994 komunitas etnis Bosniak dan Serbia yang awalnya saling memerangi setuju untuk berkerja sama pasca perundingan yang dilakukan di Zagreb. Bersatunya kedua etnis tersebut mulai membuat pasukan Yugoslavia kepayahan. Pada Bulan Agustus pasukan Yugoslavia di paksa mundur dari Kroasia setelah tidak sanggup lagi menahan gempuran demi gempuran yang dilancarkan pasukan Kroasia. Sementara di Bosnia-Hezergovina kondisinya tidak jauh berbeda karena selain harus berperang melawan pasukan gabungan Bosniak-Kroasia, Yugoslavia juga harus menerima embargo dari Internasional dan serangan bertubi-tubi dari tentara NATO. Sebagai akibatnya, pada bulan November 1995 Yugoslavia terpaksa setuju mengakui kemerdekaan Bosnia-Hezegovina.

Tahun 1999 Yugoslavia kembali bergolak menyusul timbulnya pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok separatis Ushtria Clirimtare e Kosoves yang seluruhnya anggotanya berasal dari etnis Albania. Seperti halnya konflik di tahun-tahun awal perpecahan Yugoslavia, pemerintah pusat Yugoslavia juga mengirimkan tentaranya untuk menumpas pemberontakan tersebut. Namun serangan udara yang dilakukan NATO membuat Yugoslavia terpaksa menarik mundur pasukannya dan membiarkan Kosovo di kelola oleh PBB. Tahun 2003 Yugoslavia mengubah nama resminya menjadi "Serbia & Montenegro" sebagai cara untuk memberikan otonomi luas kepada masing-masing negara bagian. Penggantian nama tersebut sekaligus menandai berakhirnya riwayat negara dengan nama Yugoslavia.

Total ada 6 negara baru yang lahir pasca runtuhnya Yugoslavia. Keenam negara tersebut adalah Bosnia-Hezergovina, Kroasia, Serbia, Slovenia, Makedonia dan Montenegro. Selain keenam negara tersebut, ada pula Kosovo yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 2008 lalu. Namun status Kosovo sebagai negara merdeka masih diperdebatkan karena proklamasi kemerdekaannya tidak diakui oleh Serbia selaku negara induknya. Sebagai akibatnya, hingga sekarang masih banyak negara yang belum mau mengakui kemerdekaan Kosovo dan Indonesia termasuk salah satunya.







untuk mengetahui cerita lebih lanjutKLIK DISINI





























































Share on Google Plus

About mejapoker88

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.