5 Skenario Perang Dunia III di Tahun 2018

5 Skenario Perang Dunia III di Tahun 2018

 

mjpk88.com - Sepanjang tahun 2017 ini, telah terjadi sejumlah besar yang mengguncang global dan kerap disebut-sebut berpotensi sebagai penyulut Perang Dunia III.
Mulai dari serangan teroris di berbagai kota besar mancanegara, juga peningkatan tensi politik dan militer di penjuru dunia.

Selain itu, ancaman nuklir Korea Utara di kawasan Asia Timur dan kekhawatiran akan serangan balasan dari Amerika Serikat ke negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un itu semakin meningkatkan ketakutan akan konflik bersenjata berskala besar.

Memasuki pengunjung tahun, beberapa di antara potensi penyulut Perang Dunia III itu memang sudah berakhir, salah satunya kekalahan ISIS di Irak dan Suriah.
Akan tetapi, sebagian besar pemantik konflik bersenjata berskala internasional masih tetap bertahan.

Bahkan, pada bulan ke 12 muncul 'pemantik-pemantik' baru, salah satunya isu Yerusalem yang cukup menyita perhatian dunia serta potensi kepemilikan Korea Utara atas senjata biologis dan kimia.

Dari berbagai contoh, inilah lima skenario Perang Dunia III yang mungkin akan terjadi pada 2018 :

1. Kim Jong Un Melakukan Tindakan Gila

Faktanya adalah, Kim Jong Un memang memiliki misil jarak jauh. Dan hulu ledak nuklir. Bahkan teranyar, ia diduga kuat memiliki senjata biologis dan kimia.
Fakta lain adalah Korea Utara telah lama mempersiapkan diri mereka secara sistematik dan struktural untuk kemungkinan menerima serangan dan konflik terbuka dengan negara lain.

Uji coba misil jarak jauh mereka misalnya, telah diprediksi oleh pengamat mampu menempuh sejumlah jarak untuk mengenai sasaran di Korea Selatan, Jepang bahkan Amerika Serikat.
Andaikata serangan itu berhasil dilakukan, maka dampaknya mungkin akan cukup serius bagi Amerika untuk melakukan serangan balasan secara efektif.

Pengamat memprediksi bahwa sikap Trump yang eksentrik dan sulit ditebak dapat memberikan kesan bagi Kim Jong Un bahwa AS sungguh-sungguh menyerang Pyongyang.

2. Efek Donald Trump Terkait Yerusalem

Keputusan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel pada 6 Desember 2017 lalu juga diprediksi mampu memicu konflik bersenjata berskala besar. Apalagi mengingat betapa banyak negara yang menaruh perhatian pada isu tersebut.

Menang, sejak pengakuan itu, konflik yang terjadi hanya sebatas bentrokan antara demonnstran Palestina dengan pasukan keamanan Israel dan terisolasi di kawasan dua negara.

Akan tetapi, andaikata jika ada satu negara yang mengirim pasukan militernya ke kawasan Israel-Palestina dan menempuh opsi perang sebagai solusi, maka bukan tidak mungkin sejumlah negara lain turut melakukan hal yang sama.

Usai mengutuk keputusan Donald Trump, Malaysia juga bersiap mengirim pasukan militernya ke Yerusalem. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pertahanan Hishammudin Hussein akhir pekan lalu.

Menurut Hussein, pengakuan Trump itu merupakan tamparan keras bagi kaum muslim. Meski siap mengerahkan pasukan, dia berharap krisis di Yerusalem tak meluas.

3. Korsel-Jepang VS Korea Utara

Secara teknis, Korsel dan Korut masih dalam kondisi perang sejak Perang Korea pecah pada tahun 1950 hingga 1953. Enam puluh empat tahun kemudian, dua negara itu belum menandatangani perjanjian damai, hanya gencatan senjata.

Tensi militer di perbatasan kedua negara itu cukup tinggi dan sering di provokasi oleh militer Korut. Seperti penanaman ranjau yang melukai tentara Korea Selatan, penenggelaman kapal Korsel di wilayah perairan DMZ dan pencatutan pulau Korsel oleh Korut.

Skenario buruk dapat terjadi andai Korsel melakukan provokasi balasan terhadap Korut. Korsel dilaporkan memiliki sejumlah misil kendali jarak jauh yang khusus ditunjukkan untuk menyerang Kim Jong Un.

Namun, serangan balasan berupa hantaman nuklir dari Kim jong Un juga di takutkan oleh Korea Selatan. Maka hanya menunggu waktu hingga Korut melakukan provokasi yang kelewat batas dan Korsel telah kehabisan kesabaran.

Jepang yang cenderung diam pada tensi militer di Semenanjung Korea yang tak berada jauh dari wilayahnya. Namun ada indikasi bahwa Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga ingin memiliki misil kendali jarak jauh yang dapat dibeli dari AS. Dan jika Jepang juga akan memilikinya tensi militer akan kian meningkat.

Hanya tinggal menunggu waktu untuk skenario terburuk dapat terjadi ketika hampir seluruh negara di Asia Timur memiliki rudal jarak jauh.

Horor Perang Dunia III bukan tidak mungkin terjadi di tengah situasi politik global yang karut-marut.

4. Manuver Rusia di Eropa

NATO melaporkan bahwa sejumlah kapal selam Rusia tengah meningkatkan presensi dan aktivitasnya di Laut Atlantik Utara sejak beberapa waktu terakhir. Aktivitas ini menurut penilaian NATO merupakan sebuah langkah agresif dari Rusia yang mampu mengganggu stabilitas di kawasan serta berpotensi memicu masalah lain.

Meningkatnya tensi militer di kawasan serupa periode Perang Dingin dan mengancam keamanan kabel jaringan telekomunikasi vital yang berada di bawah Laut Atlantik Utara, merupakan konsekuensi dari aktivitas kapal selam Rusia itu.

Sementara itu Inggris yang merupakan anggota NATO memperingatkan, jika Rusia berhasil membajak kabel-kabel tersebut, maka aktivitas ekonomi perdagangan global dan transmisi intelijen rahasia negara barat dapat diketahui oleh Rusia.

Aktivitas kapal selam Rusia juga berpotensi memicu tensi militer tinggi di kawasan. NATO sendiri mengumumkan akan mengaktifkan kembali Gugus Komando Militer yang dulu sempat dinonaktifkan ketika Perang Dingin berakhir.

Aliansi Militer Negara Atlantik Utara itu juga tengah mengembangkan strategi tempur anti kapal selam menyusul meningkatnya aktivitas militer Rusia di kawasan.
Hingga kini, Rusia belum memberikan komentar terkait tudingan NATO tersebut.

5. Prediksi Pemenang Perang Dunia III

Dipicu ketegangan Korea Utara, sejumlah orang mengklaim konflik global atau Perang Dunia III bisa menjelang dalam waktu dekat.

Jika itu sampai terjadi, akibatnya sungguh tak terbayangkan. Saat ini, satu senjata termonuklir yang bobotnya melebihi 1.000 kilogram mempunyai daya ledak setara 1,2 juta ton TNT.

Situasi makin memburuk ketika hampir semua kekuatan tempur utama di dunia saat ini punya kekuatan destruktif. Diperkirakan ada sekitar 22.000 hulu ledak nuklir yang bisa memicu sebuah kepunahan massal di muka Bumi jika digunakan secara bersamaan.

Bom atom yang dijatuhkan AS ke Hiroshima dan Nagasaki adalah kejadian pertama kali dan terakhir senjata nuklir digunakan dalam perang. Sebuah kebijakan militer paling kontroversial secara moral, politis dan historis.

Hingga kini, sulit untuk menentukan pemenang perang yang belum terjadi.

Namun secara kasat mata, Amerika Serikat diprediksi akan memenangi konflik terbuka, mengingat banyaknya aset militer yang dimiliki oleh Negeri Paman Sam.

AS yang memiliki 187 jet tempur F22 dan F35, 14 kapal selam pembawa 280 rudal berhulu ledak nuklir, 4 kapal selam pembawa 154 misil Tomahawk dan 54 kapal selam tempur bertenaga nuklir. 

Jumlah itu jauh lebih digdaya jika dibandingkan dengan negara besar lainnya seperti Rusia dan China. Sampai 2014 AS juga diduga memiliki 7.300 senjata nuklir. Itu belum termasuk dukungan dari para sekutu Washington.

Kini Rusia dilaporkan tengah mengembangkan satu jet tempur siluman, Sedangkan untuk kapal selam, mereka hanya memiliki 60 unit.

Meski jumlah itu jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang dimiliki oleh AS, namun Moskow diyakini memiliki sejumlah kapal selam yang berkemampuan siluman.
Selain itu, untuk meningkatkan kapabilitas  persenjataan nuklir, mantan seteru AS pada Perang Dingin tersebut dilaporkan tengah mengembangkan torpedo nuklir berbobot 100 megaton.

Untuk senjata nuklir, Rusia dilaporkan memiliki setidaknya 8.000 senjata nuklir.

China juga sedang meningkatkan kapasitas alutsistanya. Menurut laporan China sedang mengembangkan empat jet dengan kemampuan siluman.

Sementara itu untuk kapal selam, China memiliki 5 unit bertenaga nuklir, 53 unit bertenaga diesel dan 4 unit kapal berhulu ledak nuklir. Saat ini China diduga juga memiliki 240 senjata nuklir.

Masing-masing negara terus mengembangkan kapasitas alat tempurnya. Selain AS, Rusia dan China, sejumlah kekuatan dunia juga aktif mengembangkan sistem militernya.

Enam negara Inggris, Perancis, India, Pakistan, Korea Utara dan Israel juga diam-diam diduga kuat mengembangkan nuklirnya yang bukan digunakan untuk tujuan damai.








untuk mengetahui cerita lebih lanjut, KLIK DISINI




Share on Google Plus

About mejapoker88

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.