Revolusi Sepakbola Islandia, Indonesia Harus Mencontohnya

Revolusi Sepakbola Islandia, Indonesia Harus Mencontohnya

 

mjpk88.com - Jika melihat skuat Islandia yang berlaga di kualifikasi Euro 2016, hanya ada dua pemain yang bermain di Pepsidield Karla, kompetisi teratas di Liga Islandia. Mayoritas pemain timnas Islandia yang saat ini dipanggil pelatih Lars Lagerback tersebar di klub-klub liga Eropa seperti Inggris, Norwegia, Italia, Rusia, Spanyol dan Belgia.

Liga Islandia memang bukan tempat yang tepat untuk karier seorang pemain lokal. Liga ini hanya bergulir selama empat bulan, dimulai pada bulan Juni dan berakhir pada bulan September. Ini dikarenakan cuaca Islandia yang terlampau ekstrem untuk berolahraga ketika musim dingin.

Saat musim dingin, rata-rata temperatur di sana mencapai 0 hingga -10 celsius. Namun suhu bisa mencapai -25 hingga -30 celsius pada bulan Desember. Suhu terendah Islandia sendiri tercatat pernah mencapai hingga -39 celsius.

Dahulu cuaca ekstrem ini menjadi masalah besar karena menghambat para pemain Islandia untuk berkembang. Pada musim dingin, para pemain akan berlibur atau sebatas meningkatkan kebugaran lewat latihan di gym. Para pemain muda pun mengalami peningkatan kualitas yang lambat karena minim berlatih teknik selama musim dingin.

Namun akhirnya Federasi Sepakbola Islandia (KSI) menemukan solusi tepat untuk mengatasi permasalahan ini. Pada 2002 sebuah lapangan sepakbola indoor dibangun dan disebar ke seluruh penjuru negeri. Klub-klub pun tak keberatan untuk berinvestasi sehingga menciptakan lima lapangan indoor lainnya karena mengetahui manfaat ini.

Memang meski telah adanya lapangan indoor ini, liga tetap berjalan hanya dalam empat bulan. Namun klub-klub mendapat mandat dari KSI untuk tetap memberdayakan pemain muda meski musim dingin tiba, salah satunya dengan berlatih di dalam indoor tersebut.

Melahirkan pemain muda bertalenta memang menjadi tujuan KSI dalam revolusi yang dilakukannya sejak 2002 tersebut. Karena selain enam lapangan indoor tersebut, infrastruktur di Islandia pun semakin tumbuh dengan pesat dengan diciptakannya 20 lapangan buatan dan 130 lapangan mini untuk sekolah-sekolah dan masyarakat. Sepakbola yang menjadi olahraga nomor satu di negara berpenduduk sekitar 300 ribu ini pun bisa terus dimainkan sepanjang tahun.

KSI yang menggagas ide ini mendapatkan dukungan dari pemerintah negara. Pemerintah Islandia sendiri beranggapan bahwa dengan memasyarakatkan sepakbola akan memberikan banyak dampak positif bagi masyarakat secara menyeluruh.

Maka dari itu, pemerintah pun tidak ragu mengelontorkan dana besar agar bisa terus meningkatkan infrastruktur di masing-masing kota. Imbasnya, sepakbola pun tak pernah mati di seluruh penjuru Islandia meski cuaca ekstrim menghantui.

Menciptakan Pelatih Berkualitas

Setelah sepakbola terjamin sepanjang tahun, KSI memikirkan bagaimana cara agar bisa menghasilkan pemain-pemain berkualitas. Terlebih dengan infrastruktur yang semakin meningkat, jelas dibutuhkan metode yang tepat untuk mengembangkan pemain muda sehingga bisa menjadi pemain yang bisa mengantarkan timnas Islandia meraih prestasi.

Akhirnya KSI menemukan cara yang tepat untuk melahirkan pemain-pemain muda berkualitas. Dan cara tersebut diimplikasikan pada motto yang berbunyi "untuk melahirkan pemain berkualitas, dibutuhkan pelatih berkualitas. dan untuk melahirkan pelatih berkualitas, dibutuhkan pendidikan kepelatihan yang baik".

Pendekatan terhadap pembinaan pun dilakukan. Sigurdour Ragnar yang ditunjuk sebagai technical director KSI pada 2002 menginginkan pelatih-pelatih Islandia berkembang dan memiliki pendidikan kepelatihan yang berkualitas. Ragnar pun membidik UEFA agar mendapatkan kualifikasi pelatihan UEFA di Islandia.

UEFA menyetujui pelatihan lisensi UEFA B pada 2003 dan pelatihan lisensi UEFA A pada 2006. Tapi, untuk bisa mengikuti kepelatihan lisensi UEFA B, setiap pelatih wajib menyelesaikan empat program kepelatihan KSI B, KSI level I hingga IV terlebih dahulu. Sedangkan untuk bisa mengikuti pelatihan lisensi UEFA A, setiap pelatih wajib menyelesaikan KSI A, KSI level V hingga VII.

KSI level I hingga VII adalah seminar kepelatihan yang diselenggarakan setiap tahun oleh KSI. KSI tak mencari keuntungan pada penyelenggaraan seminar ini. KSI menetapkan biaya serendah mungkin agar semua pelatih yang ada di Islandia bisa mengikuti program ini. Dan hasilnya, pelatih berkualitas pun semakin bermunculan dari tahun ke tahun.

Per tahun 2012 tercatat 520 pelatih Islandia memiliki lisensi KSI B/UEFA B dan 165 pelatih memiliki lisensi KSI A/UEFA A. Sementara sembilan pelatih tercatat sebagai pelatih lisensi UEFA Pro. Saat ini jumlahnya tentu saja semakin bertambah banyak.

KSI pun menerapkan peraturan bahwa pelatih kepala yang menangani klub-klub Islandia harus memiliki lisensi UEFA A dan asisten pelatih berlisensi UEFA B. Pelatih kepala akademi muda pun wajib memiliki lisensi UEFA A. Klub di Islandia sendiri hanya berjumlah 75 kesebelasan dari segala divisi (lima divisi) dimana ini artinya diperebutkan oleh 165 pelatih.

Dengan adanya persyaratan ini, para pelatih pun terus berusaha menaikkan level lisensi kepelatihan mereka agar bisa unggul dari pelatih-pelatih lainnya. Ini menjadi keuntungan tersendiri bagi sepakbola Islandia dimana para pemain muda bisa mendapatkan pelatihan dari pelatih yang berkualitas. Dan ini sesuai dengan apa yang diharapkan KSI, kualitas pelatih terbaik dari segala level.

Islandia Sebagai Pencetak Pemain, Bukan Pengembang

Seperti yang dikatakan sebelumnya, mayoritas pemain di skuat Islandia saat ini dihuni oleh pemain Islandia yang bermain di luar Islandia. Klub-klub di Islandia memang tak mengekang para pemainnya untuk bermain di luar negeri sebagaimana yang para pemain Islandia cita-citakan. Durasi jangka pendek satu hingga tiga tahun pada pemain muda pun diberikan pada pemain yang mulai memasuki karier pro.

Ini membuat klub-klub luar Islandia selalu mengincar para pemain muda potensial yang dimiliki Islandia. Norwegia menjadi negara paling banyak memainkan pemain Islandia. Hampir setiap musimnya selalu ada pemain Islandia yang hijrah ke negara tetangga tersebut.

Maka dari itu, tak ada transaksi jual beli pemain di Islandia. yang sering terjadi di liga top Islandia adalah peminjaman pemain yang dilakukan antar klub. Ini pula yang membuat klub-klub luar negeri bisa mendapatkan para pemain berbakat Islandia dengan harga yang murah, bahkan free transfer.

Selain peraturan lisensi pelatih yang diterapkan untuk pelatih kepala tim yang berlaga di klub segala divisi Islandia, akademi muda berusia 12 hingga 15 tahun pun wajib memiliki lisensi kepelatihan UEFA B, sementara untuk usia 11 tahun kebawah, wajib ditangani oleh pelatih berlisensi UEFA B dengan minimal telah menyelesaikan dua level seminar KSI. Dengan pelatih berkualitas sejak usia dini inilah para pemain muda berpotensi sudah menjadi daya tarik klub Eropa sejak dini.

Gylfi Sigurdson yang kini menjadi andalan Swansea City direkrut Reading ketika masih berusia 18 tahun. Kolbeinn Sigthorsson yang kini menjadi andalan timnas Islandia dan saat ini bermain untuk Nantes, direkrut AZ Alkmaar dari HK Kopavogs saat berusia 17 tahun. Sama halnya dengan yang dilakukan AZ Alkmaar terhadap kapten Islandia saat ini, Aron Gunnarsson, yang direkrut saat masih berusia 17 tahun saat ini bermain untuk Cardiff City.

Selain memiliki potensi menjadi pemain terhebat di masa depan dan bisa didapatkan dengan biaya murah, ada hal lain yang menjadikan pemain Islandia selalu berhasil menjadi pemain yang hebat di klub yang ia bela di luar Islandia, yaitu attitude yang baik.

Para pemain Islandia dikenal dengan tipe pemain yang ambisius, tak kenal menyerah dan selalu bekerja keras. Hal ini pernah diungkapkan oleh Henning Berg, mantan pemain Manchester United yang kemudian melatih Lynn FC klub Norwegia, dimana ia pernah menangani beberapa pemain Islandia dalam timnya.

"Mental hebat adalah hal yang penting akan anda sadari dari para pemain Islandia," ujarnya. Mereka selalu berusaha mengeluarkan performa terbaik mereka, bekerja keras saat latihan dan memiliki mental kuat. Mereka adalah pemain profesional yang bisa mengatasi tekanan."

Kisah Alfred Finnbogason pun mencontohkan betapa hebatnya mental pemain Islandia. Sebelum kini Finnbogason bermain untuk Olimpiacos dan sempat membela Real Sociedad, pemain yang kini berusia 26 tahun tersebut sempat mengalami masa sulit ketika masih bermain untuk Bredablik U 18.

Meski penampilannya cukup baik, panggilan timnas U 15 masih tak kunjung tiba. Ini cukup mengkhawatirkan karena biasanya banyak pemain timnas senior Islandia yang sudah memulai kariernya  sejak timnas U 15.

Namun Finnbogason tetap tak kenal menyerah dan berlatih semakin keras. Panggilan timnas pun baru tiba ketika ia berusia 19 tahun ketika dibutuhkan Islandia U 21. pada penampilannya berbaju timnas itu, ia tampil istimewa. Dan ketika kontraknya berakhir bersama Bredablik, tawaran pun datang dari klub Belgia, Lokeren. 

Para pemain Islandia pun memiliki adaptasi yang baik ketika bermain untuk klub luar Islandia. Hal utama yang pasti dilakukan pemain Islandia adalah mempelajari dan memahami bahasa Inggris. Dan nyatanya, bisa berbahasa Inggris pun menjadi salah satu faktor lain mengapa Islandia tampil mengesankan di bawah pelatih kenamaan asal Swedia, Lars Lagerback.

Rahasia Sukses Bersama Lagerback

Keberhasilan Islandia hingga saat ini memang tak bisa dilepaskan dari peran Lagerback. Pria yang pernah mengantarkan Swedia berlaga di lima kompetisi penting secara beruntun ini sudah menangani Islandia sejak tahun 2011, menggantikan Olafur Johannesson.

Awal kepelatihannya bersama timnas Islandia sangat mengecewakan pada tahun 2012. Dari delapan pertandingan yang dijalami Islandia, ia hanya menang satu kali dan kalah tujuh kali. Namun itu tak membuatnya di gusur dari kursi kepelatihan.

Namun lambat laun, penampilan Islandia semakin membaik. Pada babak kualifikasi Piala Dunia 2014, Islandia menjadi runner up grup E yang membuat mereka masuk ke babak play-off untuk menentukan nasibnya di Piala Dunia 2014. Kala itu, Islandia berada di atas Slovenia dan Norwegia dan di bawah Swiss yang tampil sempurna tanpa kekalahan.

Ini tentunya menjadi buah dari kepercayaan KSI kepada Lagerback yang pada awalnya tampil mengecewakan. Kepercayaan ini terungkap saat Lagerback ditanyai bagaimana cara dia mengantarkan Islandia ke babak play-off.

"Mereka (KSI) tak menentukan target apapun ketika menunjuk saya sebagai pelatih. Jadi tak ada target apapun yang mengharuskan saya untuk mencapai ke babak play-off atau hasil apapun," ungkap Lagerback.

Lagerback pun mengakui sangat beruntung bisa melatih Islandia. Ia tak memiliki kendala bahasa karena mayoritas para pemain yang dipanggilnya sangat fasih menggunakan bahasa Inggris. Hal inilah yang memudahkannya memberikan instruksi pada para pemainnya.

"Kami sering menggunakan bahasa Inggris. Sebagian dari mereka pun paham bahasa Nordik. Kepada beberapa individu, saya sering menggunakan bahasa Nordik dan ketika berbicara untuk tim, saya akan menggunakan bahasa Inggris," ungkapnya.

Pemahaman antara pelatih dan pemain, khususnya ketika membicarakan implementasi taktik, membuat pemahaman bahasa menjadi penting. Karena jika apa yang dikatakan sang pelatih pemain tersebut tak dimengerti pemain, taktik yang diinginkan pelatih pun tidak akan berjalan, tim pun tak akan bermain sesuai apa yang diinginkan sang pelatih.

Lagerback rencana akan pensiun dalam waktu dekat. Dan ia menyarankan Heimirr Hallgrmisson, asisten pelatih yang bergabung dengan timnas Islandia bersamaan dengan Lagerback, untuk menjadi suksesornya. Permintaan ini tak lain agar Islandia tetap tidak mengubah filosofi bermainnya. Hallgrimsson yang sudah empat tahun menjadi asisten Lagerback tentunya tahu betul filosofi seperti apa yang digunakan Lagerback pada timnas Islandia. Dan KSI pun menyetujui gagasan ini. Hallgrimsson pun akan menjadi pelatih Islandia berikutnya ketika Lagerback memutuskan pensiun.

Kesimpulan

Islandia melakukan cara yang tepat ketika memutuskan untuk merevolusi sepakbola mereka. Cuaca buruk yang selalu menghambat para pemainnya setiap tahun bukan menjadi alasan untuk menghentikan sepakbola.

Meningkatkan standar kepelatihan pun dapat dicontoh oleh negara yang ingin memperbaiki kualitas sepakbolanya. Islandia mendapatkan dua keuntungan dari hal ini. Pertama para pelatih berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitasnya. Kedua para pemain muda pun dilatih oleh pelatih yang berkualitas.

Terakhir, memiliki filosofi bermain pun menjadi rahasia lain bagaimana Islandia bisa meraih kesuksesan. Lagerback yang tak memiliki pemain dengan talenta kelas dunia dalam skuatnya, masih tetap bisa memberikan hasil maksimal karena memiliki filosofi bermain.






untuk mengetahui cerita lebih lanjut, KLIK DISINI



Share on Google Plus

About mejapoker88

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.